Kamis, 19 Oktober 2017

Teori Belajar dan Pembelajaran Serta Cara Pengaplikasiannya🙋🙋


Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh🙏

Hello guys, bertemu lagi dengan saya👋 Pada hari ini saya akan menjelaskan sedikit pemahaman saya tentang "Teori Belajar dan Pembelajaran Serta Cara Pengaplikasiannya"👌


1.     Teori Behavioristik
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang menyatakan tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. 

·       Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme.
·       Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
·       Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga dikaitkan dengan kondisi biologis.

Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
·       Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
·       Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.

2.     Teori Belajar Kognitif
Teori belajar ini disebut sebagai model perceptual, yaitu melatih siswa untuk mengoptimalkan dalam memahami terhadap suatu objek. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan dirinya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahamn yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak. Teori kognitif ini sangat besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran, akibatnya pembelajaran di Indonesia pada umumnya lebih cenderung kognitif oriented (berorientasi pada intelektual/kognisi). Sehingga out put pendidikan kaya intelektual tetapi miskin moral kepribadian.

Aplikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
·       Pada hakikatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung melakukan praktek yang mengarah pada kekuatan intelektual peserta didik. Meskipun teori ini memiliki berbagai kelemahan, namun memiliki juga kelebihan yang harus diperhatikan yaitu kecerdasan peserta didik perlu dimulai dari adanya pembentukan kualitas intelektual (kognitif). Konsekuensinya proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa mengembangkan kualitas intelektualnya.

3.     Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.

Aplikasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran
·       Pengetahuan tidak bisa diberikan begitu saja kepada siswa dan diharapkan siswa juga harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Siswa akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila dia memiliki pengalaman dengan apa yang dipelajarinya.Teori ini memusatkan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka, bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
·       Pengajar berperan sebagai fasilitator atau instruktur yang membantu murid mengkonstruksi koseptualisasi dan solusi dari masalah yang dihadapi. Mereka bependapat bahwa pembelajaran yang optimal adalah pembelajaran yang berpusat pada murid (student center learning).
·       Pengajar harus dapat memahami dan menghargai pemikiran siswa yang seringkali siswa menampilkan pendapat yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemikiran pengajar. Apa yang dikatakan oleh murid dalam menjawab sebuah pertanyaaan adalah masuk akal bagi mereka saat itu. Jika jawaban itu jauh bertentangan dengan prinsip-prinsip keilmuan atau membahayakan, maka pengajar harus hati-hati dalam memberi pengarahan. Jangan sampai pengarahan yang diberikan menghilangkan rasa ingin tahu siswa atau menimbulkan konflik antara pengajar dengan siswa.

4.     Teori Belajar Humanistik
Dalam teori humanistik, proses belajar dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. 

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain yaitu Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.

ü  Arthur Combs (1912-1999)
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan anak. Anak tidak bisa matematika atau bahasa bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa mempelajarinya dan mereka merasa tidak memiliki alasan penting untuk mempelajarinya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yangada.
ü  Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya.
ü  Carl Rogers
Guru menghubungkan pengetahuan akademik kedalam pengetahuan terpakai seperti mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaiki mobil. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. 

Ø  Jika kita menganalisis berbagai teori pembelajaran akan kita temukan kelebihan dan kelemahan dari masing-masing teori pembelajaran:

v  Teori pembelajaran behaviorisme menganggap belajar selalu dihubungkan dengan adanya stimulus yang diberikan pendidik dan respon (tanggapan) siswa serta ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Kita ketahui bersama bagaimanapun siswa bimbingan atau arahan pendidik sebagai bentuk stimulus agar siswa dapat belajar sesuai dengan stimulus yang diberikan. Teori ini menguntungkan untuk anak yang kurang aktif ia akan belajar jika diberi stimulus dan jika tidak ia tidak belajar. Dalam teori ini anak selalu mengikuti apa yang dikatakan gurunya. Guru merupakan titik sentral dalam pembelajaran. Sehingga guru lah yang aktif memberikan stimulus-stimulus sedangkan siswa tinggal meresponnya saja. Oleh karena itu siswa kurang aktif sehingga pengetahuan yang didapat kurang menjadi bermakna karena siswa hanya akan belajar jika diberi stimulu-stimulus saja. Hal inilah yang menjadi kekurangan teori belajar behaviorisme.

v  Teori pembelajaran kognitif. Disini belajar sangat menekankan aspek-aspek intelek, misalnya siswa belajar dengan mengingat, mengolah informasi, dan emosi-emosi. Melalui teori ini kita dapat mengetahui kemampuan kognitif individu. Teori kognitif mempunyai pengaruh besar dalam pembelajaran di Indonesia. Lulusan-lulusan SD, SMP, SMA hanya diluluskan/ditentukan pada UAN saja. Selain itu pendidik masih banyak yang menggunakan tes-tes tertulis sebagai evaluasi. Akibatnya, pengalaman yang didapat dalam teori kognitif masih kurang. Siswa hanya ditekankan pada kemampuan intelektual. Pengetahuan yang didapat menjadi kurang bermakna tidak diamalkan langsung dalam realita masyarakat. Banyak lulusan pendidikan yang kaya intelektual namun masih sangat miskin moral. Tanpa pikir panjang mereka mengambil uang rakyat, bukannya meringankan beban Negara malah menambah beban Negara. Mestinya lulusan pendidikan memiliki kemampuan intelektual yang tinggi tetapi juga kepribadian (moral) yang baik juga. Dengan begitu bukan tidak mungkin bangsa Indonesia menjadi Negara maju dengan menjunjung tinggi nilai moralitas.

v  Teori pembelajaran konstruktivisme. Dalam teori ini siswa belajar dari pengalaman realita masyarakat. Siswa menemukan sendiri pengetahuan melalui pengalamanya. Siswa sudah mulai aktif dalam teori ini tidak lagi mengikuti semua yang diperintahkan guru. Guru bukan merupakan titik sentral dalam pembelajaran, guru lebih berperan sebagai moderator yang mengembangkan potensi siswanya. Siswa dituntut aktif dalam semua kegiatan pembelajaran sehingga pengetahuan yang didapat menjadi lebih bermakna dan lebih tahan lama karena siswa menemukan pengetahuan itu dari pengalamannya sendiri. Melakukan jauh lebih baik daripada hanya membaca dan mendengarkan. Namun pada teori ini siswa yang kurang aktif cenderung menjadi tersisihkan, hanya diam, dan kurang diperhatikan karena tertutup oleh teman-temannya yang aktif. Seharusnya guru juga memperhatikan siswa yang kurang aktif ini dan sebisa mungkin mengoptimalkan potensi masing-masing individu.

v  Teori humanisme. Teori ini merupakan usaha memanusiakan manusia. siswa belajar mengenali dirinya dan lingkungannya sendiri untuk menggali potensinya masing-masing. Setiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri dengan melalui pengalamannya sendiri. Dalam teori ini siswa diharapkan berani mengutarakan pendapat atau gagasannya secara bertanggung jawab tanpa merugikan orang lain. Kelbaikan dalam teori ini adalah semua siswa terpenuhi hak-haknya terutama dalam berpendapat. Teori ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa teori-teori sebelumnya.


Sekian penjelasan tentang apa yang saya pahami pada pembahasan "Teori Belajar dan Pembelajaran Serta Cara Pengaplikasiannya"😊 Jika ada kesalahan atau kekurangan pada tulisan saya mohon kritik dan sarannya😊 See you  my next post guys👋💋💋

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar