Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh🙏
Hello guys, bertemu lagi dengan saya👋 Pada hari ini saya akan menjelaskan sedikit pemahaman saya tentang "Teori Belajar dan Pembelajaran Serta Cara Pengaplikasiannya"👌
1.
Teori Behavioristik
Teori belajar behavioristik adalah sebuah
teori yang menyatakan tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan
menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
·
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan tingkah laku akibat kegiatan
belajar tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
teori koneksionisme.
·
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara
stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat
diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya
perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun
dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan
karena tidak dapat diamati.
·
Clark Hull juga
menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengertian belajar. Semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga
agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan
biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah
penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan
kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud
macam-macam. Penguatan tingkah laku juga dikaitkan dengan kondisi biologis.
Aplikasi Teori
Behavioristik dalam Pembelajaran
· Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus
responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon
atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
· Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi
pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of
knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.
2.
Teori Belajar
Kognitif
Teori belajar ini disebut sebagai model perceptual, yaitu
melatih siswa untuk mengoptimalkan dalam memahami terhadap suatu objek. Teori
ini menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan dirinya. Belajar merupakan
perubahan persepsi dan pemahamn yang tidak selalu dapat terlihat sebagai
tingkah laku yang nampak. Teori kognitif ini sangat besar pengaruhnya dalam
proses pembelajaran, akibatnya pembelajaran di Indonesia pada umumnya lebih
cenderung kognitif oriented (berorientasi pada intelektual/kognisi). Sehingga
out put pendidikan kaya intelektual tetapi miskin moral kepribadian.
Aplikasi
Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
· Pada hakikatnya teori kognitif adalah sebuah teori
pembelajaran yang cenderung melakukan praktek yang mengarah pada kekuatan
intelektual peserta didik. Meskipun teori ini memiliki berbagai kelemahan,
namun memiliki juga kelebihan yang harus diperhatikan yaitu kecerdasan peserta
didik perlu dimulai dari adanya pembentukan kualitas intelektual (kognitif).
Konsekuensinya proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar
siswa mengembangkan kualitas intelektualnya.
3. Teori
Konstruktivisme
Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa
siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila
aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan
dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah,
menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan
ide-ide. Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting
dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam
benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi
kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan
mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka
sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa
ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat
anak tangga tersebut.
Aplikasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran
· Pengetahuan tidak bisa diberikan begitu saja kepada siswa
dan diharapkan siswa juga harus aktif secara mental membangun struktur
pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Siswa akan
lebih mudah mempelajari sesuatu bila dia memiliki pengalaman dengan apa yang
dipelajarinya.Teori ini memusatkan pada kesuksesan siswa dalam
mengorganisasikan pengalaman mereka, bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas
apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa
lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi.
· Pengajar berperan sebagai fasilitator atau instruktur yang
membantu murid mengkonstruksi koseptualisasi dan solusi dari masalah yang
dihadapi. Mereka bependapat bahwa pembelajaran yang optimal adalah pembelajaran
yang berpusat pada murid (student center learning).
· Pengajar harus dapat
memahami dan menghargai pemikiran siswa yang seringkali siswa menampilkan
pendapat yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemikiran pengajar. Apa yang
dikatakan oleh murid dalam menjawab sebuah pertanyaaan adalah masuk akal bagi
mereka saat itu. Jika jawaban itu jauh bertentangan dengan prinsip-prinsip
keilmuan atau membahayakan, maka pengajar harus hati-hati dalam memberi
pengarahan. Jangan sampai pengarahan yang diberikan menghilangkan rasa ingin
tahu siswa atau menimbulkan konflik antara pengajar dengan siswa.
4.
Teori Belajar
Humanistik
Dalam teori humanistik, proses belajar dimulai dan ditujukan
untuk kepentingan memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika
si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Teori
belajar ini lebih banyak berbicara tentang konep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik
antara lain yaitu Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
ü
Arthur Combs (1912-1999)
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru
tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan anak. Anak tidak bisa matematika atau bahasa bukan karena bodoh
tetapi karena mereka enggan dan terpaksa mempelajarinya dan mereka merasa tidak
memiliki alasan penting untuk mempelajarinya. Untuk itu guru harus memahami
perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga
apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau
pandangan siswa yangada.
ü Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri
individu ada suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk
melawan atau menolak perkembangan itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai
berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang,
takut untuk mengambil kesempatan, dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang
juga memiliki dorongan untuk lebih maju. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan
(needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi
kebutuhan pertama, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di
atasnya.
ü Carl Rogers
Guru menghubungkan pengetahuan akademik kedalam pengetahuan
terpakai seperti mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaiki mobil.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru
memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu menjadi manusia
berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar
tentang hal-hal yang tidak ada artinya siswa akan mempelajari hal-hal yang
bermakna bagi dirinya.
Ø Jika kita
menganalisis berbagai teori pembelajaran akan kita temukan kelebihan dan kelemahan
dari masing-masing teori pembelajaran:
v Teori pembelajaran
behaviorisme menganggap belajar selalu dihubungkan dengan adanya stimulus yang
diberikan pendidik dan respon (tanggapan) siswa serta ditandai dengan adanya
perubahan tingkah laku. Kita ketahui bersama bagaimanapun siswa bimbingan atau
arahan pendidik sebagai bentuk stimulus agar siswa dapat belajar sesuai dengan
stimulus yang diberikan. Teori ini menguntungkan untuk anak yang kurang aktif
ia akan belajar jika diberi stimulus dan jika tidak ia tidak belajar. Dalam
teori ini anak selalu mengikuti apa yang dikatakan gurunya. Guru merupakan
titik sentral dalam pembelajaran. Sehingga guru lah yang aktif memberikan
stimulus-stimulus sedangkan siswa tinggal meresponnya saja. Oleh karena itu
siswa kurang aktif sehingga pengetahuan yang didapat kurang menjadi bermakna
karena siswa hanya akan belajar jika diberi stimulu-stimulus saja. Hal inilah
yang menjadi kekurangan teori belajar behaviorisme.
v Teori pembelajaran
kognitif. Disini belajar sangat menekankan aspek-aspek intelek, misalnya siswa
belajar dengan mengingat, mengolah informasi, dan emosi-emosi. Melalui teori
ini kita dapat mengetahui kemampuan kognitif individu. Teori kognitif mempunyai
pengaruh besar dalam pembelajaran di Indonesia. Lulusan-lulusan SD, SMP, SMA
hanya diluluskan/ditentukan pada UAN saja. Selain itu pendidik masih banyak
yang menggunakan tes-tes tertulis sebagai evaluasi. Akibatnya, pengalaman yang
didapat dalam teori kognitif masih kurang. Siswa hanya ditekankan pada
kemampuan intelektual. Pengetahuan yang didapat menjadi kurang bermakna tidak
diamalkan langsung dalam realita masyarakat. Banyak lulusan pendidikan yang
kaya intelektual namun masih sangat miskin moral. Tanpa pikir panjang mereka
mengambil uang rakyat, bukannya meringankan beban Negara malah menambah beban
Negara. Mestinya lulusan pendidikan memiliki kemampuan intelektual yang tinggi
tetapi juga kepribadian (moral) yang baik juga. Dengan begitu bukan tidak
mungkin bangsa Indonesia menjadi Negara maju dengan menjunjung tinggi nilai
moralitas.
v Teori pembelajaran
konstruktivisme. Dalam teori ini siswa belajar dari pengalaman realita
masyarakat. Siswa menemukan sendiri pengetahuan melalui pengalamanya. Siswa
sudah mulai aktif dalam teori ini tidak lagi mengikuti semua yang diperintahkan
guru. Guru bukan merupakan titik sentral dalam pembelajaran, guru lebih
berperan sebagai moderator yang mengembangkan potensi siswanya. Siswa dituntut
aktif dalam semua kegiatan pembelajaran sehingga pengetahuan yang didapat
menjadi lebih bermakna dan lebih tahan lama karena siswa menemukan pengetahuan
itu dari pengalamannya sendiri. Melakukan jauh lebih baik daripada hanya
membaca dan mendengarkan. Namun pada teori ini siswa yang kurang aktif
cenderung menjadi tersisihkan, hanya diam, dan kurang diperhatikan karena
tertutup oleh teman-temannya yang aktif. Seharusnya guru juga memperhatikan
siswa yang kurang aktif ini dan sebisa mungkin mengoptimalkan potensi
masing-masing individu.
v Teori humanisme.
Teori ini merupakan usaha memanusiakan manusia. siswa belajar mengenali dirinya
dan lingkungannya sendiri untuk menggali potensinya masing-masing. Setiap orang
ditentukan oleh dirinya sendiri dengan melalui pengalamannya sendiri. Dalam
teori ini siswa diharapkan berani mengutarakan pendapat atau gagasannya secara
bertanggung jawab tanpa merugikan orang lain. Kelbaikan dalam teori ini adalah
semua siswa terpenuhi hak-haknya terutama dalam berpendapat. Teori ini tidak
bisa berdiri sendiri tanpa teori-teori sebelumnya.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar